SEDERET INFO-INFO

MEMBERIKAN INFORMASI TERUNIK, TERPERCAYA, TERDEPAN (2019 ANTI HOAX)

19 Januari 2014

Tentang Uang Yang Menyedihkan di Perbatasan dan Pelosok Negeri

1. Uang lusuh di mesin ATM

Uang lusuh dan tidak edar tidak hanya dari hasil transaksi masyarakat. Uang lusuh pun keluar dari mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Kondisi itu ditemui di Provinsi Gorontalo. Merdeka.com mencoba membuktikannya. Saat hendak melakukan tarik tunai di sebuah ATM, yang keluar dari mesin ATM adalah uang yang sudah lusuh.
Kepala Kantor Perwakilan provinsi Bank Indonesia di Gorontalo, Suryono mengaku sudah meminta perbankan lebih selektif menyortir atau menyeleksi uang yang tidak layak edar atau rusak.
"Di sini banyak uang tidak layak edar," singkat Suryono di saat acara "Festival Karawo Gorontalo 2013" di Gorontalo, Minggu (1/12).

2. Kurang pasokan Rupiah

Masalah terkait uang di perbatasan tidak hanya soal uang lusuh atau uang rusak yang banyak beredar. Di Gorontalo, masyarakat juga kesulitan mendapat pasokan uang untuk kebutuhan transaksi sehari-hari.
"Kami masih bergantung dari kantor pusat BI di Sulawesi Utara (Manado) baik uang logam dan kertas sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan uang layak di daerah sini," ujar Kepala Kantor Perwakilan provinsi Bank Indonesia di Gorontalo, Suryono.
Kelangkaan uang sangat terasa saat hari besar keagamaan. Sebab, saat hari besar kebutuhan akan uang tunai sangat tinggi dan melonjak dibanding hari biasanya. "Hari biasa mungkin kebutuhan uang tidak terasa namun untuk memenuhi uang layak edar di hari raya sangat minim bahkan kekurangannya lima kali lipat," jelas dia.
Salah satu penyebab minimnya pasokan uang tunai di Gorontalo, tidak banyak bank umum di daerah itu. Kondisi ini membuat akses masyarakat ke sektor perbankan terhambat.
"Selama ini sistem pembayaran banyak persyaratan, sistem kliring yang belum maksimal karena belum ada bank umum bahkan distribusi uangnya bank yang cukup besar menaruhnya di bank mandiri," jelasnya.

3. Ringgit lebih digemari

Di dalam negeri, alat pembayaran yang sah adalah mata uang Rupiah. Namun, , pada 17 Desember 2002 lalu, Indonesia harus rela kehilangan dua pulaunya, yakni Sipadan dan Ligitan yang jatuh ke tangan Malaysia lantaran dua pulau itu tidak menggunakan mata uang Rupiah, melainkan Ringgit.
"Kita pernah kehilangan dua pulau, Sipadan dan Ligitan. Kita tidak mau ini terjadi lagi. Pertimbangan Mahkamah Internasional kala itu, transaksi di sana tidak menggunakan rupiah tapi mata uang negara tetangga," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Lambok Antonius mendapati masyarakat di perbatasan Indonesia bagian Barat yang lebih cenderung menggunakan Ringgit dengan nilai tukar yang lebih tinggi, Lambok berharap proses redenominasi bisa segera terlaksana.
"Kalau mau beli kan pakai ringgit cuma bawa berapa lembar, kalau pakai rupiah kan itu bawa berlembar-lembar. Makanya perlu redenominasi itu," kata Lambok di Gedung Bank Indonesia, beberapa waktu lalu.
Masyarakat di perbatasan Indonesia bagian Timur dan perbatasan Indonesia bagian Barat ternyata juga punya perbedaan dalam hal penggunaan uang kesehariannya. "Yang daerah timur, misalnya perbatasan Papua dengan Papua Nugini itu kecenderungannya mereka gunakan rupiah. Tapi yang barat itu cenderung (gunakan) ringgit," tambahnya.

4. Uang receh paling banyak lusuh

Setiap tahun, Bank Indonesia rutin menarik dan memusnahkan uang lusuh. Porsi uang lusuh terbesar adalah dari nominal Rp 2.000 sebesar 28,54 persen, nominal Rp 5.000 sebesar 24,42 persen, nominal Rp10.000 mencapai 14,38 persen dan nominal Rp 1.000 sebesar 13,56 persen. Selebihnya, uang pecahan besar Rp 20.000, Rp 50.000 dan Rp 100.000 di bawah 10 persen.
Uang pecahan kecil (UPK) mendominasi uang lusuh. Hal ini karena tingkat perputaran uang pecahan tersebut cukup tinggi di masyarakat. "Sehingga lebih cepat lusuh dibanding uang pecahan besar (UPB)," kata Direktur Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Difi Ahmad Johansyah kepada merdeka.com, beberapa waktu lalu.

5. Uang lusuh banyak di Pulau Jawa

Pulau Jawa dam Jakarta memberi kontribusi terbesar terhadap rasio uang lusuh yang diterima BI, yaitu sebesar 58.57 persen dan wilayah selanjutnya adalah Sumatera sebesar 23,33 persen.
"Hal ini mencerminkan tingginya perputaran uang dalam transaksi ekonomi di kedua wilayah ini dibandingkan wilayah lain yang masih di bawah 10 persen," ujar Direktur Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Difi Ahmad Johansyah.

Jangan Berbicara yang tidak mengandung inti artikel..
- Berbicaralah yang baik
- Apalagi kalau anda hanya mencari BACKLINK

www.lihatin.com. Diberdayakan oleh Blogger.
Back To Top